Beranda | Artikel
Istiqomah yang Dituntut Dari Seorang Hamba
Rabu, 28 Februari 2024

SEPULUH KAIDAH PENTING TENTANG ISTIQOMAH

Kaidah Keempat: Istiqomah yang di tuntut dari seorang hamba adalah berusaha untuk selalu berada pada sebuah keistiqomahan jika tidak mampu maka lebih mendekatinya

Dan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menjadikan satu dari dua perkara ini di dalam sabdanya.

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا، وَأَبْشِرُوا

Sesungguhnya agama itu adalah mudah, tidak ada seorang pun yang mempersulit di dalam agama kecuali dia akan terkalahkan, maka dekatkanlah kepada sunah dan beri kabar gembira“. HR Bukhari no: 39, 6463.

Maka yang di tuntut dalam masalah istiqomah adalah sadad.  Sadad maknanya yaitu bertepatan dengan sunah.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan kepada Ali semoga Allah meridhoinya ketika dia meminta kepada Nabi untuk mengajari do’a yang bisa ia panjatkan kepada Allah, Nabi mengajarinya dengan do’a:

 اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي

Ya Allah berilah aku petunjuk dan cukupkanlah aku di atas sunah“.

Nabi juga bersabda,

وَاذْكُرْ بِالهُدَى هِدَايَتَكَ الطَّرِيقَ، وَالسَّدَادِ سَدَادَ السَّهْمِ

Ingatlah dengan hidayah yang (dengan hidayah tersebut) engkau di atas jalan yang lurus, dan dengan sadad (ketepatan.pent) di atas sunah seperti tepatnya anak panah (yang mengenai sasarannya)“. HR Muslim no: 2725.

Seorang hamba di tuntut agar berusaha dengan bersungguh-sungguh untuk sesuai dengan sunah, sesuai dengan petunjuk Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, metode dan perjalanan hidupnya. dan selalu berusaha untuk bisa mencapai hal tersebut. Jika tidak memungkinkan bagi dirinya untuk bertepatan dengan sunah secara sempurna maka setidaknya bisa mendekatinya dan Allah Ta’ala telah berfirman:

قال الله تعالى: ﴿فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ﴾ [فصلت: 6]

Maka tetaplah pada jalan yang Lurus menuju kepadanya dan mohonlah ampun kepadaNya“. [Fushilat/41: 6].

Allah menyebutkan dalam ayat di atas agar meminta ampun kepadaNya yang sebelumnya di dahului perintah untuk beristiqomah, ini mengisyaratkan bahwa seorang hamba bagaimanapun usahanya serta kesungguhan untuk selalu bisa tetap di atas istiqomah tentu masih saja ada kekurangannya.

Oleh karena itu al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan: “Dalam firman Allah Ta’ala:

قال الله تعالى: ﴿فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ﴾ [فصلت: 6]

Maka tetaplah pada jalan yang Lurus menuju kepadanya dan mohonlah ampun kepadaNya“. [Fushilat/41: 6].

Mengisyaratkan kepada bahwasannya ada saja kekurangan yang di dapati dalam masalah istiqomah yang Allah perintahkan dalam ayat tersebut yang mana itu semua dapat tertutupi dengan istighfar (minta ampun) yang mencakup taubat kepada Allah Ta’ala, dan ini seperti yang disabdakan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’ad bin Jabal semoga Allah meridhoinya, beliau bersadba:

اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا

Bertakwalah kepada Allah di manapun kamu berada, dan ikutlah perbuatan buruk dengan kebaikan niscaya ia akan menghapusnya“.

Dalam hadits yang lain Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa manusia tidak akan mungkin sanggup untuk bisa beristiqomah sebenar-benar istiqomah hal ini sebagaimana dalam hadits yang di keluarkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah dari haditsnya Tsauban dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

اسْتَقِيمُوا وَلَنْ تُحْصُوا، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمُ الصَّلَاةُ، وَلَا يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إِلَّا مُؤْمِنٌ

Istiqomahlah kalian dan jangan menghitung-hitung, beramallah kalian dan sebaik-baik amalan yang kalian lakukan adalah sholat. Tidak ada yang menjaga wudhu kecuali seorang mu’min“. HR Ahmad 22378, Ibnu Majah 277, Di shahihkan oleh al-Albani dalam Irwaul gholil no:412.

Dalam shahih Bukhori dan Muslim di riwayatkan dari Abu Hurairah semoga Allah meridhoinya bahwasannya Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

 سَدِّدُوا وَقَارِبُوا

Sesuaikanlah (amalan) kalian selalu dengan sunah dan (jika tidak mungkin) maka dekatilah“. HR Bukhari no:6463, Muslim no: 2816.

Maka sesuai dengan sunah adalah istiqomah yang benar dan hakiki, yaitu mengena dalam sunah pada semua perkataan, perbuatan, maksud serta keinginan-keinginannya seperti halnya orang yang melempar sesuatu ke lubang lalu masuk tepat di lubangnya.

Dan sungguh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyuruh Ali bin Abi Tholib semoga Allah meridhoinya supaya meminta kepada Allah Azza wa jalla amalan yang sesuai dengan sunah dan hidayah, Nabi mengatakan kepadanya,

اذكُرْ بالسَّدَادِ تَسْدِيدَكَ السَّهْمَ، وبالهُدَى هِدَايَتَكَ الطَّرِيقَ

Ingatlah dengan (amalanmu yang sesuai dengan sunah) seperti halnya panah yang tepat mengenai sasarannya. Dan ingatlah jalan hidayah seperti halnya engkau menempuh sebuah jalan“.

Maka mendekatkan diri kepada sunah seperti lemparan yang setidaknya dekat dengan sasaran walaupun tidak masuk kepada lubangnya.

Namun dengan catatan hendaknya di bangun di atas niat yang benar dalam masalah ini, mengenai sasaran. Dan hendaknya mendekat dengan usaha yang tanpa mengenal lelah, karena seberapa usaha kita tetap saja kita tidak akan sanggup untuk bisa sesuai dengan sunah dalam segala sisi. Yang menunjukan hal ini adalah sebuah hadits yang di riwayatkan oleh al-Hakam bin Hazn al-Kulafi bahwasannya Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ لَنْ تُطِيقُوا أَوْ لَنْ تَفْعَلُوا كُلَّ مَا أُمِرْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ سَدِّدُوا وَأَبْشِرُوا

Wahai manusia! Sesungguhnya kalian tidak akan mampu mengerjakan – atau tidak akan sanggup – (mengerjakan) semua yang saya perintahkan, akan tetapi (berusahalah) untuk lebih mengenai (yang saya perintahkan) dan berilah kabar gembira“. HR Abu Dawud no: 1097, Ahmad 17856, Dan di hasankan oleh al-Albani dalam Irwa no: 616.

Adapun maknanya yaitu sedikit dalam mengenai sunah dan tetap dalam keistiqomahan ketika mengerjakan sunah tersebut. Karena sesungguhnya jikalau kalian selalu berusaha untuk sesuai dengan sunah dalam setiap amalan maka seolah-olah kalian telah melakukan setiap perintah tersebut.[1]

[Disalin dari عَشْرُ قَوَاعِدَ فِي الاسْتِقَــامَةِ   (edisi Indonesia : Sepuluh Kaidah Penting Tentang Istiqomah). Penulis Prof. DR. Abdurrazaq bin Abdul Muhsin al-Badr  Penerjemah Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com]
_______
Footnote
[1] Jaami’ul Ulum wal Hikam 1/5110-511


Artikel asli: https://almanhaj.or.id/100248-istiqomah-yang-dituntut-dari-seorang-hamba.html